Artikel, Kemasan Makanan

Mengenal Foopak, Inovasi Kemasan Makanan Aman dan Ramah Lingkungan

Sudah jamak saya dengar isu kemasan pangan yang berbahaya. Kemasan ini bahaya, itu bahaya, sampai ada orang yang pernah nyeletuk, apa sebaiknya kita pakai daun pisang saja? Hehehe…

Tapi daun pisang pun tentu tidak bisa menjadi solusi, mengingat daun dari tanaman berbatang silidris berlapis ini mudah robek, jadi hanya dipakai sebagai pelapis dari kemasan makanan yang ada. Kemasan makanan yang umum kita gunakan untuk take-away makanan yaitu styrofoam, kertas nasi berwarna coklat, boks nasi, plastik bening dan kantong kresek.

Isu keamanan pangan menjadi semakin serius ketika didukung pula dengan penelitian ilmiah, sebagai contoh, material polistirena busa—nama generik dari material yang lazimnya disebut sebagai styrofoam. Styrofoam sendiri sebenarnya merupakan nama dari sebuah merek dagang.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kemasan styrofoam boleh digunakan sebagai kemasan makanan, namun dengan beberapa syarat yaitu tidak digunakan untuk mengemas makanan secara langsung, harus diberi alas misalnya plastik atau daun pisang, dan yang paling penting tidak boleh digunakan untuk mewadahi makanan dengan kadar minyak tinggi dan dalam keadaan panas.

Selain styrofoam yang pernah diteliti BPOM, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga pernah meneliti kertas nasi berwarna coklat yang diketahui tidak aman dari aspek higienitasnya. Kertas nasi ini terbuat dari material kertas daur ulang yang mengandung risiko bakteri berbahaya, karena dicetak tanpa melalui proses sterilisasi. Per gram kertas nasi mengandung bakteri 1,5 juta koloni, artinya dalam selembar kertas nasi mengandung sekitar 150 juta bakteri.

Roadshow Food Safety Packaging di Rumah Maroko, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 24 November 2016. Dokumentasi pribadi
Roadshow Food Safety Packaging di Rumah Maroko, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 24 November 2016. Dokumentasi pribadi

Dalam sebuah acara bertajuk Roadshow Food Safety Packaging, diperkenalkan Foopak sebagai sebuah teknologi terbaru dalam segmen produk kemasan pangan, yang merupakan teknologi asli buatan dalam negeri.

Datang ke event yang dihadiri narasumber dari BPOM, LIPI dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, akhirnya membuka pengetahuan saya sebagai blogger, bahwa ternyata isu styrofoam dan kertas nasi itu memang benar adanya.

Sesi pemaparan materi keamanan pangan dengan narasumber dari BPOM, LIPI, dan LPPOM MUI. Dokumentasi pribadi
Sesi pemaparan materi keamanan pangan dengan narasumber dari BPOM, LIPI, dan LPPOM MUI. Dokumentasi pribadi

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, tak tanggung-tanggung roadshow tersebut diadakan di tiga kota secara marathon yakni di Jakarta (24/11/2016), Bandung (29/11/2016) dan Semarang (1/12/2016).

Atul Tyagi selaku Foopak Technical Expert menjelaskan, Foopak terbuat dari material kertas berkualitas. Bahan baku kertas berasal dari kayu yang ditanam di area konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI), bukan hutan alam. Oleh sebab itu, konsumen tidak perlu ragu dengan masalah konservasi lingkungan di hutan hujan tropis Indonesia. Material kertas kita ketahui pula lebih ramah lingkungan, karena mudah terdegradasi secara alamiah.

Atul Tyagi, Foopak Technical Expert. Dokumentasi pribadi
Atul Tyagi, Foopak Technical Expert. Dokumentasi pribadi

Selain itu, kemasan makanan ini telah mengantongi sertifikasi FDA (Food and Drugs Administration) dan ISEGA (Industrie Studien und Entwicklungsgesellschaft Aschaffenburg)—sertifikasi kemanan pangan dari Jerman.

Di tingkat nasional, Foopak telah mendapat rekomendasi dari BPOM, peneliti LIPI, dan tersertifikasi Halal dari Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI.

Dari aspek keamanan pangan (food safety), Foopak mengklaim sebagai kemasan pangan Food Grade dan Halal, yang ditandai dengan logo tara pangan dan Halal di setiap kemasannya.

Sertifikasi Halal LPPOM MUI. Dokumentasi pribadi
Sertifikasi Halal LPPOM MUI. Dokumentasi pribadi

Kemasan pangan yang aman, sudah pasti dibuat menggunakan teknologi tinggi. Dengan begitu, biasanya ada kualitas, ada harga (baca: mahal).

Lalu, apakah pedagang harus memasang harga mahal di setiap produk yang mereka jual, hanya demi memberikan kemasan yang aman untuk konsumen?

Atul memastikan bahwa Foopak akan memberikan harga yang kompetitif untuk berbagai skala bisnis. Tak hanya untuk pengusaha skala besar, bahka bisnis pangan sekelas UKM pun bisa menggunakan Foopak.

“Kami sudah punya dealer dan distributor resmi untuk tiap wilayah. Jadi bagi para pelaku bisnis, misalnya seperti UKM tetap bisa mengakses produk kami. Kami punya daftar harga tersendiri, jadi pengusaha yang ingin menggunakan layanan kami silahkan langsung menghubungi customer service melalui email, nanti akan diberikan daftar harganya,” jelas Atul di satu sesi tanya jawab.

Oh ya, sebagai informasi tambahan yang saya dapatkan dari event ini, ragam material yang diusung kemasan Foopak terdiri dari 6 varian utama yang bisa disesuaikan dengan jenis-jenis menu yang dijual, antara lain:

1. Grease-Proof Board

Digunakan sebagai kemasan yang kontak langsung dengan produk. Jenis makanan yang bisa menggunakan kemasan ini antara lain: roti, pastry, burger, kue kering, kue basah, cokelat, pizza, bermacam gorengan, ayam olahan.

Keunggulannya yaitu kemasan ini dapat digunakan untuk menyimpan makanan yang dibekukan dalam freezer temperatur minus 175 derajat Celcius, hingga makanan siap saji yang  perlu dipanaskan dengan microwave hingga 175 derajat Celcius selama 2 menit.

2. Heat Sealable Board

Digunakan sebagai kemasan yang kontak langsung  dengan produk makanan yang panas dan memiliki kandungan minyak tinggi. Jenis makanan yang bisa menggunakan varian kemasan ini antara lain: sandwich, makanan instan, bungkus permen, dan juga sebagai pot tanaman.

Keunggulan jenis ini dapat dibekukan dengan suhu minus 18-175 derajat Celcius, dan dipanaskan dengan microwave hingga 175 derajat Celcius selama 2 menit.

3. Hard Size Board

Kemasan ini sesuai untuk kemasan yang tidak kontak langsung dengan produk, antara lain: manisan, nugget beku, pizza beku, dan makanan awetan lainnya, serta obat-obatan dan kosmetik.

Keunggulannya dapat dibekukan dengan suhu minus 180-175 derajat Celcius, dan dipanaskan dengan microwave hingga 175 derajat Celcius selama 2 menit.

4. PE Board

Kemasan ini sesuai untuk kemasan yang kontak langsung dengan produk, terutama makanan berkadar minyak tinggi dan makanan yang disiram saus. Cocok digunakan sebagai rice boxhot take awayfood big buckets, dan untuk menyimpan makanan beku dalam jangka waktu lama.

Keunggulannya yaitu bisa disimpan dalam freezer hingga temperatur minus 180-100 derajat Celcius, dan dipanaskan dalam microwave hingga 100 derajat Celcius selama 1 menit.

5. Natura Cup

Kemasan kertas dengan lapisan premium poly-coated yang menghadirkan konsistensi kokoh dan anti-bocor. Keunggulan varian ini dapat digunakan sebagai wadah minuman dingin bertemperatur minus 18 derajat Celcius, dan minuman panas bertemperatur 100 derajat Celcius. Jenis produk makanan yang bisa menggunakan kemasan ini antara lain: es krim, yoghurt, aneka jenis sup dan mie.

6. Bio Natura Cup

Merupakan kemasan kertas yang 100% bio-degradable, tanpa lapisan plastik, OBA free (optical brightening agent/bahan pemutih atau pewarna, Red), tahan panas dan anti-bocor.

Dirancang untuk wadah berbagai jenis makanan dan minuman. Selain itu, material bio-degradable memungkinkan wadah ini digunakan sebagai pot untuk keperluan menanam tanaman hortikultura.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi

Event Roadshow Food Safety Packaging ini dihadiri oleh peserta yang sebagian besar dari pengusaha di industri makanan dan minuman, guna menyampaikan informasi langsung kepada produsen tentang inovasi terbaru yang terkait dengan ranah bisnis mereka.

Tetapi tentunya tak lengkap jika tidak ada awak media dan para penulis seperti blogger dan pegiat media sosial lainnya, yang menyampaikan informasi yang belum semua orang ketahui ini.

Sebelum menutup tulisan, saya ingin sedikit menyinggung tentang cerita penemuan styrofoam pertama kali nya oleh Ray McIntire yang bekerja sebagai insinyur kimia di Dow Chemical Company, perusahaan asal Amerika Serikat pada awal tahun 1940-an.

Awalnya Ray bermaksud untuk mengembangkan bahan polimer sebagai isolator listrik. Tetapi pada saat itu ia malah secara tidak sengaja menemukan jenis material baru polisirena busa, setelah ia mengisolasi monomer stirena (bahan baku pembuat karet dan plastik) dengan isobutilena (cairan yang mudah menguap). Isobutilena bukannya menguap, malah berubah wujud menjadi gelembung busa padat, menghasilkan jenis plastik yang 30 kali lebih ringan dan fleksibel daripada polistirena, jenis plastik yang banyak digunakan sebelumnya.

Ketika styrofoam yang notabene berasal dari Amerika Serikat itu lebih populer sebagai kemasan makanan saat ini, saya ingin mengatakan bahwa Indonesia pun memiliki inovasi kemasan makanan yang layak diacungi jempol, yaitu Foopak sebagai kemasan makanan yang aman dan ramah lingkungan.

Semoga bermanfaat.

Salam.

 

Sumber